2026, Hidup Seperti Camus, Berani Seperti Nietzsche

IO
By -
0

Gambar : Ilustrasi Sisypus dan Nietzsche (General Ai) 

"Dalam kedalaman musim dingin, akhirnya aku belajar bahwa di dalam diriku ada musim panas yang tak terkalahkan."

- Albert Camus

Mungkin ungkapan Camus tadi dapat memberikan gambaran singkat terkait perjalanan hidup saya selama 2025 ini. Tidak keseluruhan, namun hal-hal seperti itu hampir selalu dapat ditemui setiap perjalanannya.


Absurditas Hidup dan Seni Mendorong Batu

Tahun ini, seperti yang lalu-lalu, membawa kita pada pertemuan dengan absurditas. Rutinitas yang berulang, rencana yang berantakan, pencapaian yang entah apa maknanya. Di tengah gegap gempita hiruk pikuk ini, kita mungkin mulai ragu dan terbisik pertanyaan di diri kita, apa arti semua ini?

Di sinilah Camus mengulurkan tangannya.

Hidup seperti Camus bukan berarti kita harus mengangkat pemberontakan tanpa sebab atau menulis sejumlah novel eksistensialis. Hidup seperti Camus berarti menerima bahwa dunia ini absurd, tidak masuk akal, tidak adil, seringkali acak, namun kita tetap memilih untuk bangun setiap pagi. Tetap menyeduh kopi, tetap menyapa tetangga, tetap mencintai meski tahu semuanya fana.

"Kita harus membayangkan Sisyphus bahagia."

- Albert Camus

Sisyphus dikutuk mendorong batu ke puncak gunung hanya untuk melihatnya menggelinding kembali, lagi dan lagi, untuk selamanya. Tapi Camus melihat kebahagiaan dalam pemberontakan diam-diam itu.

Dalam kesadaran penuh akan kesia-siaan, dan dalam keputusan untuk tetap mendorong batu itu, Sisyphus tetap mendorongnya hingga ke puncak meski tahu itu akan kembali menggelinding ke bawah.

Perjalanan tahun 2025 ini, mungkin saja hampir membuat kita lupa berapa kali dan banyaknya batu yang telah kita dorong hanya untuk melihatnya jatuh kembali? Proyek yang gagal, hubungan yang renggang, kesehatan yang terganggu dan beberapa harapan yang tak bisa diraih. Tapi bisakah kita, seperti Sisyphus? Menemukan makna — bukan dalam mencapai puncak, tetapi dalam mendorong, itu sendiri?


Keberanian Nietzsche: Mencintai Takdir (Amor Fati)

"Apa yang tidak membunuhku, membuatku lebih kuat."

- Friedrich Nietzsche

Dan di sinilah Nietzsche berbisik tentang keberanian.

Keberanian Nietzsche bukan heroisme kosong atau arogansi buta. Keberanian Nietzsche adalah Amor Fati.Sebuah keberanian untuk mencintai takdir. Bukan sekadar menerima apa yang terjadi, tetapi mencintainya sepenuh hati.

"Aku ingin belajar semakin melihat yang indah dalam hal-hal yang perlu. Maka aku akan menjadi salah satu yang membuat hal-hal indah."

- Friedrich Nietzsche

Tahun ini telah membentuk kita dengan palu godam nasib. Setiap pukulan menyakitkan, tapi Nietzsche mengajak kita untuk menjadi pematung diri sendiri. Bukan korban yang pasif, tapi seniman yang aktif membentuk makna dari penderitaan.

Nietzsche telah menunjukkan keberaniannya. Keberanian untuk mengatakan "ya" pada hidup dalam keseluruhannya, termasuk pahit getirnya. Berani untuk menciptakan nilai-nilai sendiri ketika yang lama runtuh. Ia berdiri di tepi jurang sambil terus bernyanyi seolah ketakutan telah berdamai dengan dirinya.


Refleksi Akhir Tahun: Dari "Apa yang Ingin Dicapai" Menjadi "Bagaimana Ingin Mengalami Hidup"

Di penghujung tahun, di antara resolusi dan rencana, mungkin kita perlu bertanya bukan "Apa yang ingin saya capai?" melainkan "Bagaimana saya ingin mengalami hidup?"

Hidup seperti Camus adalah menemukan kebahagiaan dalam perjalanan yang tidak memiliki tujuan akhir yang pasti. Berani seperti Nietzsche adalah menciptakan matahari sendiri ketika dunia gelap.

Tahun depan, ketika absurditas kembali mengetuk jendela—dan itu tak terhindarkan, ia pasti akan mengetuk dinding-dinding rapuh pada diri kita. Namun saat itu terjadi, Camus mengingatkan kita untuk selalu tersenyum dan berkata: "Silakan masuk. Aku sudah menyiapkan kopi."

Tahun 2026, Kita akan terus mendorong batu, tapi kali ini sambil bersiul. Kita akan menghadapi badai, tapi kali ini sambil menari. Karena di tengah dunia yang tak masuk akal, sikap kitalah yang membuat segalanya berarti.

Semoga di tahun mendatang, kita menjadi lebih mahir dalam seni mendorong batu, dan lebih berani dalam seni mencintai takdir.

Selamat berefleksi. Selamat melanjutkan perjalanan yang absurd dan indah ini. Tahun 2026 apinya tidak akan berhenti berkobar — tetaplah untuk memilih dan bersikap seperti anak pramuka di sekitar api unggun.

Artikel reflektif akhir tahun 2025. Terinspirasi oleh pemikiran Albert Camus dan Friedrich Nietzsche.

Tags:

Posting Komentar

0 Komentar

Aturan & Pedoman Komunitas
1: Jangan memposting email atau informasi pribadi apa pun.
2: Jangan memposting tautan blog/situs web Anda sendiri.
3: Untuk Bantuan & Dukungan gunakan formulir Hubungi Kami.

*Komentar tidak akan disetujui jika aturan di atas tidak diikuti!

Posting Komentar (0)
grid1/recent

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Out
Ok, Go it!